Lompat ke konten

ypi-institute.org

Apa Itu Personality Tes

Tree HR Personality adalah kerangka konseptual dan aplikatif untuk memahami, memetakan, serta mengembangkan kepribadian sumber daya manusia (SDM) secara utuh, sistemik, dan berkelanjutan. Model ini dikembangkan oleh Amir Tengku Ramly sebagai bagian dari inovasi Tree HR Model yang memandang manusia bukan sekadar kumpulan kompetensi teknis, melainkan entitas holistik yang memiliki energi, pola pikir, dan perilaku yang saling terhubung.

Secara filosofis, Tree HR Personality menggunakan metafora pohon. Akar merepresentasikan energi kepribadian atau locus of character (Introverted Locus Character/ILC dan Extroverted Locus Character/ELC) yang menjadi sumber daya psikologis terdalam seseorang. Energi ini menentukan bagaimana individu mengelola motivasi, emosi, dan daya tahan dalam bekerja. Batang melambangkan pola pikir (thinking style), yang menggambarkan cara individu memproses informasi, menalar masalah, dan mengambil keputusan—misalnya kecenderungan Sensing–Intuiting dan Thinking–Feeling. Sementara itu, cabang, daun, dan buah merepresentasikan temperamen dan perilaku kerja yang tampak, seperti gaya komunikasi, cara berkolaborasi, respons terhadap tekanan, serta kecenderungan kepemimpinan.

Keunikan Tree HR Personality terletak pada integrasinya antara aspek psikologis, perilaku organisasi, dan nilai-nilai etis-spiritual. Model ini tidak berhenti pada klasifikasi tipe kepribadian, tetapi diarahkan untuk pengembangan karakter dan penempatan talenta yang tepat. Dalam praktiknya, Tree HR Personality menghasilkan tipologi yang rinci (hingga 84 tipe), sehingga dapat digunakan untuk berbagai konteks: pendidikan (guru dan dosen), organisasi profesional, kepemimpinan, hingga manajemen talenta.

Dengan pendekatan ini, Tree HR Personality membantu individu dan organisasi menjawab pertanyaan mendasar: siapa saya, bagaimana saya bekerja secara alami, dan bagaimana potensi terbaik saya dapat ditumbuhkan. Oleh karena itu, Tree HR Personality bukan sekadar alat asesmen, melainkan peta pengembangan manusia yang menekankan keseimbangan antara kinerja, karakter, dan kebermaknaan kerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *